Jurnalistrik-JAKARTA: PT Hutama Karya (Persero) (Hutama Karya) terus memperkuat penerapan Building Information Modeling (BIM), teknologi LiDAR, dan Lean Construction di berbagai proyek infrastruktur strategis, bertepatan dengan peringatan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Hakteknas) yang jatuh setiap 10 Agustus.

Melalui penerapan teknologi tersebut, Hutama Karya mendorong efisiensi biaya dan waktu, meminimalkan risiko rework, serta meningkatkan akurasi pengendalian proyek jalan, jembatan, jalan tol, bendungan, dan gedung yang turut menopang layanan infrastruktur bagi masyarakat luas.

Penerapan BIM di Hutama Karya bermula sejak penugasan pembangunan Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) pada 2014, yang menuntut koordinasi desain dan pengendalian konstruksi yang lebih terintegrasi dibanding metode konvensional berbasis gambar kerja 2D dan dokumen cetak. Inisiatif tersebut kemudian dilembagakan melalui pembentukan Unit BIM pada 2018, dan diperkuat menjadi Bagian BIM di bawah Divisi Sistem dan Teknologi Informasi pada 2020. Pada 2021, Hutama Karya tercatat sebagai perusahaan konstruksi pertama di Indonesia yang meraih sertifikasi ISO 19650 Kitemark untuk Part 1, 2, dan 5.

Saat ini, Penerapan BIM di Hutama Karya telah mencakup seluruh tahapan proyek, mulai dari perencanaan hingga serah terima. Pada tahap perencanaan, BIM digunakan untuk merancang bangunan secara detail dan memastikan seluruh elemen desain saling terkoordinasi sejak awal, sehingga potensi kendala dapat terdeteksi lebih dini. Memasuki tahap konstruksi, BIM dimanfaatkan untuk memantau progres pekerjaan, mengendalikan waktu dan biaya, serta menjaga koordinasi antar tim di lapangan. Sebelum proyek selesai, model BIM disempurnakan menjadi representasi digital dari aset yang telah terbangun, yang selanjutnya dapat dimanfaatkan untuk mendukung pengelolaan aset secara berkelanjutan. Seluruh data & proses ini nantinya didukung oleh satu sistem digital terpadu bernama Common Data Environment (CDE), sehingga tim internal maupun pemilik proyek dapat mengakses informasi yang sama secara real-time, sesuai dengan kebutuhan dan standar yang disepakati pada masing-masing proyek.

Semangat inovasi teknologi di Hutama Karya sejatinya bukan hal baru. Jauh sebelum era BIM dan digitalisasi, Hutama Karya telah melahirkan teknologi Sosrobahu yang dikembangkan oleh Ir. Tjokorda Raka Sukawati, yang memungkinkan kepala pier jalan layang diputar setelah proses pengecoran sehingga pembangunan dapat berlangsung tanpa mengganggu lalu lintas di bawahnya. Inovasi tersebut menjadi salah satu terobosan konstruksi paling ikonik dari Indonesia yang penggunaannya meluas hingga ke tingkat internasional.

Plt. Executive Vice President (EVP) Engineering, Riset & Teknologi Informasi Hutama Karya, Amy Rachmadhani W, mengatakan bahwa penerapan teknologi konstruksi di Hutama Karya diarahkan untuk menjawab kebutuhan bisnis, bukan sekadar mengikuti tren. Menurutnya, momentum Hari Kebangkitan Teknologi Nasional harus menjadi pengingat bahwa teknologi konstruksi bukan lagi pilihan tambahan, melainkan kebutuhan bisnis.

“Teknologi tidak menggantikan manusia. Ia membuka ruang bagi mereka yang berani mencoba, terus belajar, dan menciptakan sesuatu yang lebih baik. Karena pada akhirnya, kemajuan lahir ketika teknologi dan kemampuan manusia bergerak bersama untuk memberi dampak yang nyata. Di Hutama Karya, kami mencoba bergerak dan memulai dengan langkah demi langkah transformasi untuk mempersiapkan diri menghadapi masa depan,” jelas Amy.

Manfaat penerapan BIM tergambar pada Proyek Bendungan Semantok, di mana analisis desain dan kondisi lapangan yang lebih akurat membantu tim proyek mengidentifikasi dan meminimalkan potensi rework pada pekerjaan lereng dan fondasi sejak tahap perencanaan. Langkah ini menghindarkan proyek dari potensi keterlambatan hingga sekitar 6 bulan, sekaligus mencegah potensi kerugian akibat rework yang diperkirakan mencapai 8 persen dari nilai kontrak. Selain itu, Jalan Tol Trans Sumatera Ruas Rengat–Pekanbaru menjadi salah satu proyek showcase penerapan BIM dan LiDAR di Hutama Karya, yang meraih penghargaan Innovator of The Year pada Autodesk ASEAN Innovation Awards 2021.

Di samping BIM, Hutama Karya turut memanfaatkan teknologi LiDAR dan Photogrammetry untuk mendukung survei topografi, pemetaan kondisi eksisting, hingga monitoring perkembangan pekerjaan di lapangan. Dibandingkan metode survei konvensional, teknologi ini menghasilkan data yang lebih cepat, akurat, dan mencakup area yang lebih luas, sekaligus memangkas waktu survei serta mengurangi risiko pekerjaan pengukuran pada area yang sulit dijangkau maupun berbahaya.

Selain digitalisasi, Hutama Karya juga memperkuat penerapan Lean Construction yang bertumpu pada tiga prinsip, yaitu Respect for People, Maximize Value Minimize Waste, dan Continuous Improvement, yang dijalankan melalui Last Planner System (LPS), pengendalian material berbasis Just in Time (JIT), serta program pengurangan pemborosan melalui Value Stream Mapping, Takt Planning, dan 5S yang diintegrasikan dengan BIM.

Penerapan tersebut membuahkan hasil pada sejumlah proyek. Optimalisasi perencanaan pada Proyek Bayung Lencir–Tempino Seksi 3 mempercepat target penyelesaian dari sekitar 20 bulan menjadi 17 bulan. Pada salah satu proyek di Ibu Kota Nusantara (IKN), penerapan Lean Construction menekan biaya sewa alat sekitar 20 persen serta menurunkan konsumsi bahan bakar sekitar 15 persen. Capaian ini turut mengurangi emisi karbon sekitar 50 ton CO₂, sejalan dengan komitmen Hutama Karya terhadap prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG), khususnya dalam menekan jejak karbon pelaksanaan proyek konstruksi. Sementara pada Proyek BRI Ragunan Paket 2, integrasi 5S, BIM, dan Takt Planning turut mempercepat target penyelesaian proyek dari April 2026 menjadi Desember 2025.

Mengacu pada Rencana Jangka Panjang Perusahaan (RJPP) 2025–2029, Hutama Karya akan terus memperkuat implementasi Digital Construction dan Lean Construction secara berkelanjutan, dengan fokus pada peningkatan integrasi data proyek, pemanfaatan data analytics untuk pengambilan keputusan, penguatan interoperabilitas antar sistem digital, hingga eksplorasi teknologi emerging seperti Artificial Intelligence (AI), Digital Twin, dan automation. Langkah ini sekaligus menjadi wujud dukungan Hutama Karya terhadap Asta Cita Pemerintah, khususnya dalam mempercepat pembangunan infrastruktur yang berkualitas, merata, dan berkelanjutan di seluruh Indonesia.

Plt. EVP Sekretaris Perusahaan Hutama Karya, Hamdani, menambahkan bahwa transformasi teknologi ini juga menjadi bagian penting dari narasi dan reputasi Hutama Karya sebagai BUMN Karya. “Transformasi teknologi di Hutama Karya bukan sekadar cerita di balik layar proyek, tetapi bagian dari identitas dan reputasi Perseroan sebagai BUMN Karya yang inovatif. Momentum Hari Kebangkitan Teknologi Nasional menjadi kesempatan bagi kami untuk mengomunikasikan kepada seluruh pemangku kepentingan bahwa setiap infrastruktur yang kami bangun, dari Sabang sampai Merauke, lahir dari proses yang terukur, akuntabel, dan didukung teknologi terkini,” ujar Hamdani. (Ika)

About The Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *